(越中島2009.07.01)Tanggal 1 Juli 2009 pagi ini, Rasha, anak kedua kami memulai hari pertamanya masuk sekolah di SD atau shougaku (小学). Agak kuatir juga karena sekolah ini sekolah umum yang menggunakan bahasa Jepang saja. Sedangkan Rasha sudah berumur 9 tahun dan sudah di kelas 4, sedikit sekali mengerti bahasa Jepang dan tulisan kanji. Sebelumnya sejak TK sampai kelas 4 semester 1, Rasha bersekolah di Bogor. Kemudian semester 2, sekolah di Sekolah Indonesia Tokyo (SRIT). Jadi pembelajaran mengenai Jepang dilakukan selama 1 semester di SRIT.
Rasha pindah ke 小学 tepat tanggal 1 Juli 2009, setelah kenaikan kelas ke kelas 5. Pihak sekolah menempatkan Rasha di kelas 4, karena umurnya masih 9 tahun.
Proses masuk 小学 dimulai di kotamadya (区) di bagian pendidikan (board of education), jadi tidak mendaftar ke sekolah. Pihak kecamatan yang menentukan sekolah yang terdekat dari tempat tinggal. Tentunya setelah verifikasi KTP (alien card) dari orang tua calon murid. Mereka juga memberi banyak informasi seputar pendidikan di Jepang, terutama ditekankan mengenai bahasa pengantar yang hanya bahasa Jepang. Selengkapnya baca di
sini. Kemudian mereka memberikan surat pengantar yang harus dibawa pada saat wawancara (interview) dengan kepala sekolah.
Melalui teman yang bisa bicara Jepang, thanks to Huang-san, kami menemui kepala sekolah untuk wawancara. Hal yang ditanyakan lebih banyak mengenai calon murid. Misalnya bagaimana karakter anak, kebiasaan sehari hari, berapa jumlah saudara, apakah ada alergi atau pantangan, dan lain-lainnya. Tidak ada yang namanya uang pangkal, uang gedung dan uang sumbangan sukarela seperti di Indonesia. Kami hanya diminta membeli perlengkapan: topi seragam, alat musik, baju olah raga, sepatu dalam kelas, baju renang, kuas tulis kanji. Kemudian ada formulir yang harus diisi, form standar seperti alamat, umur, data orang tua. Tidak ada kolom agama.
Kami orang tua pun dibekali dengan tata tertib sekolah dalam bentuk brosur bergambar. Tapi semuanya dalam kanji yang tidak kami mengerti. Huang-san yang menerjemahkan, dalam bentuk catatan dan coret coretan di brosur agar kami mengerti.
Pada hari pertama ini orang tua diminta mengantar anaknya sampai ke kelas dan menyerahkannya kepada guru yang mengajar yaitu Yamane sensei. Pagi ini kami datang tepat jam 8 sesuai permintaan kepala sekolah. Kemudian ada briefing singkat mengenai tata tertib, sebelum masuk kekelas. Sebelum masuk kekelas Yamane sensei memberikan contoh bagaimana memberi salam pada saat masuk gerbang sekolah, meletakan sepatu di rak dan menggantinya dengan sepatu kelas (wabagi), menunjukan toilet, tempat cuci tangan dan kran air minum. Setelah itu kami menyerahkan Rasha untuk dididik disekolah itu, Yamane sensei menyalami kami dan mulai mengajar. Kami-pun permisi pulang.
ardi etchujima
Post a Comment